Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi alam yang rusak karena penggunaan obat-obat kimia di lahan pertanian lereng Merapi, Sujono memilih berkreasi dengan mengangkat tema alam.
Seniman yang tinggal di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan itu, menciptakan wayang dengan beragam karakter dan rupa serangga yang ada di alam.
Serangga, bagi sebagian petani yang tinggal di wilayah pegunungan terkadang menjadi hama. Namun, bagi Sujono, serangga tersebut bukan hanya dipandang sebagai hama saja. Dia justru membuat kerajinan wayang dengan rupa serangga seperti belalang, jenggeret, rayap, nyamuk, jongkang, dan lain sebagainya.
โSaya tertarik untuk menciptakan kesenian dengan bentuk serangga ini, karena prihatin banyak serangga dan hama yang dimusnahkan dengan pestisida. Padahal, hama itu sebenarnya memang sudah diciptakan untuk keseimbangan alam,โ katanya kepada Tribun Jogja, Minggu (15/12/2013)
Baginya, penggunaan pestisida yang berlebih, membuat alam rusak. Bahkan, malahan menimbulkan masalah tersendiri bagi para petani, dengan munculnya hama patek, penyakit kuning atau londo, dan penyakit lainnya.
Sujono yang juga bekerja sebagai petani dan dekat dengan alam ini, kemudian menuangkan idenya dengan berkreasi menggunakan fiber plat. Ia kemudian membuat sekitar 15 jenis wayang dengan rupa serangga yang ada di lahan pertanian dan alam di desanya.
Menurut Sujono, 15 wayang serangga tersebut dinamakannya Wayang Saujana. Ada beberapa nama yang unik dari tokoh wayang saujana tersebut seperti Nyi Jenggeret, Nyamuk, Orong-orong, Slendo, Picir. Bentuknya pun dibuat mirip dengan wayang kulit, hanya rupa dan segi warna lebih beragam.
โSerangga-serangga tersebut punya karakter tersendiri, semisal jongkang adalah hama yang mematikan tumbuhan. Sementara
kinjeng maling adalah kanibal dan suka makan temannya sendiri. Nah, ini bisa diangkat dalam pementasan dan suatu cerita,โ ujar pria kelahiran 11 November 1970 ini.
Sujono mengatakan, untuk membuat wayang dengan motif dan rupa serangga tersebut membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Wayang Saujana tersebut, merupakan masterpiece buatannya dan dipamerkan secara perdana dalam Pementasan Budaya โManeges Gunungโ bersama dengan Komunitas Seni Lima Gunung, di Bentara Budaya Jakarta.
Jono menambahkan, untuk membuat sebuah karakter wayang saujana memerlukan waktu sekitar dua hari. Wayang saujana ini, sejauh ini masih dibuat dengan tangannya sendiri. โAwalnya, memang hanya untuk kebutuhan pameran Maneges Gunung. Namun, ke depannya jika memang akan terus dipamerkan saya siap untuk membuat dalam skala banyak,โ kata Jono.
Pria berputra dua ini mengaku siap untuk menjual karyanya tersebut, jika ada yang berminat dan tertarik. Menurutnya, untuk satu set wayang saujana yang terdiri dari 15 karakter tersebut, ia membandrol harga Rp 20 juta.
โMungkin ke depan, saya bersama dengan teman-teman Komunitas Lima Gunung, bisa menggarap pementasan untuk wayang Saujana. Kalau untuk lakon atau cerita, sangat fleksibel tergantung dengan kondisi sosial yang ada,โ paparnya.
Sujono menjelaskan, karyanya yang terinspirasi dengan keberadaan serangga, tidak hanya wayang saujana. Jauh sebelum membuat wayang saujana, Sujono juga telah membuat beberapa karya seperti topeng saujana dan tarian saujana.
